Sekedar Ngasih Saran. . .

Jadikan dirimu sesempurna mungkin,meskipun tiada yang sempurna di dunia ini!
Bentuklah duniamu dengan sikap yang mengagumkan...

Selasa, 01 Februari 2011

Rp 20.000/jam


Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”


“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”


Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”

Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.
Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. 

Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”


Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”
 
Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.
Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.
“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.

“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”

Jangan Menunda Cita-Cita Anda

 
Menunda adalah hal yang pastinya pernah kita lakukan. Dan gara – gara menunda ini maka kehidupan kita bisa kacau dibuatnya. Bisa – bisa apa yang kita impikan dan inginkan hanyalah sebatas khayalan saja. Tentunya kita tidak mau seperti itu bukan ?

Untuk itu marilah kita simak ilustrasi cerita berikut ini agar kita tergugah untuk mewujudkan cita – cita kita menjadi nyata.

Di sebuah tempat ada satu keluarga sederhana yang mempunyai anak laki – laki. Anak laki – laki ini mempunyai cita – cita tinggi, namun menunggu untuk mewujdukannya setelah selesai menempuh pendidikan. 
 
Anak laki – laki ini ingin mempunyai mobil mewah. Dan dia merasa ketika dia mempunyai mobil mewah itu maka hidupnya akan bahagia da dikagumi banyak orang. Cita – cita dan impiannya yang ketinggian ini membuat sikapnya jadi sombong, karena dia merasa akan kaya raya.

Selang waktu berlalu, anak laki – laki ini telah berubah menjadi pemuda dan telah juga menyelesaikan pendidikannya. Kemudian pemuda ini berjanji pada orangtuanya bahwa dia akan mewujudkan impiannya mempunyai mobil mewah jika sudah bekerja. Pekerjaan sudah didapat, orangtua pemuda itu pun menanyakan kapan cita – citanya itu akan diwujudkan? 
 
Pemuda terus menunda dan memberikan alasan nanti jika dia sudah menemukan wanita yang bisa mendampinginya. Terus dan terus saja pemuda itu menunda. Sampai akhirnya pemuda itu pun berkata bahwa semua itu sudah terlambat dan semua itu hanya angan – angan belaka. Dia sudah cukup senang menikmati kehidupannya dengan angan dan khayalan kosong.

Cerita diatas mungkin saja kita alami yaitu bercita – cita tinggi tapi tidak bertindak dan terus menunda. Dan semua itu akan percuma saja. Kebiasaan menunda akan membuat seseorang kehilangan gairah, arah, tujuan dan berlari menjauh dari apa yang menjadi impiannya. Cita – cita hanya impian Jika tidak direncanakan. 
 
Dan hanya akan menjadi bualan jika tidak ada tindakan. Selama masih ada waktu gunakanlah untuk menyusun kehidupan. JIka berani bermimpi berani jugalah untuk mewujudkannya. Bertindak nyata berarti siap menghadapi apapun sampai impian kita terwujud nyata, manis, indah dan membanggakan. 
 
Kalo mimpi gal cepet ditindak maka akan jadi penyakit dan ini akan menganggau kehidupan kita. Penyalkit menunda bisa disembuhkan dengan kekuatan hati dan sikap tegas.