Sekedar Ngasih Saran. . .

Jadikan dirimu sesempurna mungkin,meskipun tiada yang sempurna di dunia ini!
Bentuklah duniamu dengan sikap yang mengagumkan...

Senin, 07 Maret 2011

Ketelitian Hidup


Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah
perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap
profesor, seraya tangan sibuk mencatat.


"Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian," terdengar suara sang
profesor. "Dan saya harap kalian dapat membuktikannya." Bapak itu beranjak ke
samping. "Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3
bulan." Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu
ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat
jijik. "Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian," ucap profesor
lebih meyakinkan.

"Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian
ingin menjadi dokter." Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara
jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang
profesor berkata lagi, "Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana
keberanian dan ketelitian kalian?”

Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. "Ah, akhirnya ada juga yang
berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.”
Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada.
Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik
terlihat dari air mukanya.

Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan
mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan,
dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang
menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor
tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.

"Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang
harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian." Profesor itu menepuk
punggung si mahasiswa. "Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke
toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh
keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian."

***

Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru
bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit
yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan
tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.

Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan
sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian.
Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples.
Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih
pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi
tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana
yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

Teman, hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh
ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat "mencelupkan
jari" dalam toples kehidupan. Kalau tidak, "rasa pahit" yang akan kita temukan.